Perekonomian Di Boyolali
Perekonomian Di Boyolali
1. Peternakan Sapi
Boyolali dikenal sebagai kota susu, karena merupakan salah
satu sentra terbesar penghasil susu sapi segar di Jawa Tengah.
Peternakan sapi perah umumnya berada di daerah selatan dan dataran
tinggi yang berudara dingin, karena sapi perah yang dikembangkan saat
ini berasal dari wilayah sub-stropis Australia dan Selandia Baru. Selain
itu didaerah Kecamatan Ampel terdapat sentra industri Abon dan Dendeng.
2. Perindustrian
Banyak terdapat perindustrian di wilayah Boyolali yang dapat
menampung tenaga kerja yang potensial. Mayoritas industri yang ada di
wilayah Boyolali adalah bergerak dalam bidang tekstil, antara lain PT.
Sari Warna Asli, PT. Safaritex, PT. Bupatex dll. Di Kecamatan Ampel
misaalnya, telah disediakan Kawasan Industri baru yang luasnya berkisar
272-300 hektare (ha). Kawasan industri Boyolali dirancang untuk industri
berbasis TPT terintegrasi, termasuk dilengkapi dengan infrastruktur
yang memadai dan fasilitas pusat pelatihan dan inovasi. Kawasan ini
difokuskan untuk industri tekstil kering (garmen) karena keterbatasan
air.
3. Produksi Tanaman Perkebunan
Kelapa = 4.396,20 hektare = 10.766.450 butir
Cengkeh = 892,13 hektare = 4.317,30 kwintal
Teh = 28,62 hektare = 161,60 kwintal
Tembakau = 2.884,20 hektare = 1.819.299 kilogram
Kencur = 573,85 hektare = 4.605.290 kilogram
Jahe = 300,50 hektare = 1.805.100 kilogram
Kopi Robusta = 224,67 hektare = 75.703 kilogram
Kopi Arabika = 186,61 hektare = 13,24 ton
Jambu Mete = 129,53 hektare = 50.781 kilogram
Potensi ekonomi
Tembakau Rajangan, di Kecamatan Mojosongo, Banyudono, Musuk, Selo,
Cepogo, Ampel, Teras dan Sawit. Produksi 4.178.543 ton/tahun, meliputi
areal 5.369,35 hektare. Manfaat: bahan baku industri rokok. Pemasaran:
ke wilayah Jateng dan Jatim.
Tembakau Asapan, di Kecamatan Mojosongo, Banyudono, Teras, Ampel,
dan Sawit. Produksi 1.760,79 ton/tahun dengan areal seluas 2.635
hektare. Manfaat: Bahan baku industri rokok. Pemasaran di wilayah Jateng
dan Jatim.
Peluang investasi
Tembakau: Industri Pabrik Rokok di Kecamatan Selo, Ampel, Musuk,
Cepogo, Mojosongo, Teras, Sawit dan Banyudono Potensi: Produksi
4.178,543 ton/tahun pada areal 5.369,35 hektare. Kegunaan: Bahan baku
industri rokok.
Kopi Arabika: Budidaya tanaman kopi arabika di Kecamatan Selo,
Cepogo, Ampel, dan Musuk. Potensi: Produksi 172,790 ton/tahun pada areal
234 hektare. Kegunaan: memenuhi kebutuhan pasar ekspor dan bahan baku
industri kopi bubuk/instant.
Jahe: Budidaya tanaman jahe dan Industri pengolahan jamu tradisional
di Kecamatan Ampel, Musuk, Cepogo, Boyolali, dan Selo. Potensi:
Produksi 4.363,170 ton/tahun pada areal 611,85 hektare. Kegunaan: Bahan
baku industri jamu tradisional.
Kencur: Budidaya tanaman kencur dan industri pengolahan jamu
tradisional di Kecamatan Simo, Andong, Klego, Sambi, dan Nogosari.
Potensi: Produksi 5.670,290 ton/tahun pada areal 490,95 hektare.
Kegunaan: Bahan baku industri jamu tradisional.
Teh: Industri pengolahan teh wangi di Kecamatan Ampel, Selo, dan
Cepogo. Potensi: Produksi 191,63 kg/tahun pada areal 27,88 hektare.
Kegunaan: Bahan baku pengolahan teh wangi.
Jarak: Budidaya tanaman jarak dan Industri pengolahan minyak jarak
di Kecamatan Klego, Andong, Kemusu, Juwangi, Wonosegoro dan Nogosari.
Potensi areal: 10.409 hektare. Kegunaan: bahan baku industri minyak
jarak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar